Monday, February 8, 2016

APA SIH MAKNA PERNIKAHAN…?




APA SIH MAKNA PERNIKAHAN…?

Akhi Ukhti…

Aku ingin mengajakmu untuk merenung

* Apasih makna sebuah pernikahan?

* Bila sebelumnya engkau telah menyentuh pasanganmu

* Engkau telah duduk bersanding dengannya

* Engkau telah berpelukan erat dengannya

* Engkau telah berjalan berduaan dengannya

* Engkau telah bersembunyi di balik tabir menutup pintu dari pandangan manusia bersamanya

* Yang lebih parah lagi engkau sudah pernah tidur di atas kasur berduaan dengannya

* Lalu apa artinya akad nikah?

Apa gunanya resepsi?

Apa gunanya saksi dan wali

Apa gunanya mengumumkan kepada khalayak ramai pernikahanmu?

Kalau semua orang telah mengetahui hubunganmu dengannya?
Dan Sang Pencipta telah melihat kelakuanmu selama ini

* Apa masih ada yang sakral dari pernikahan yang seperti ini?

* Hanya sekedar untuk mendapatkan buku hijau….namun semuanya sudah dilakukan sebelum akad nikah

* Jangan membohongi dirimu sendiri dengan berpura-pura menikah

Memulai lembaran baru sebagai pasutri

Yang dahulunya haram menjadi halal

Yang dahulu dilarang menjadi sebuah anjuran

Padahal sebelum akad nikah kau sudah menghalalkan semuanya

* Islam adalah agama yang menghargai wanita

* Menghormati dan menjaga putri Adam

* Wanita di dalam Islam bukan barang dagangan yang bisa kau pegang-pegang sebelum kau menikahinya

* Dia bukan pakaian yang bisa kau coba-coba untuk melihat keselarasannya

* Dia bukan makanan yang bisa kau cicipi rasanya

* Namun dia adalah mutiara indah di dalam cangkang kerang

Yang hanya boleh disentuh, dipegang, dibuka dan dibawa oleh yang telah melakukan ijab qabul

* Itulah keindahan pernikahan di dalam Islam

Kesakralan akad nikah

Itulah guna seorang wali dan saksi

Bukan hanya sekedar mendatangkan penghulu dan bertanda tangan di buku

* Sebagian manusia merasa berakal

Merasa berperadaban

Merasa lebih baik dari binatang

Namun perilakunya tak ubahnya seperti binatang

* Lihatlah ayam betina

Di mana bertemu pejantan dia dinaiki olehnya

Sebagian wanita hanya dengan kedipan mata

Atau rayuan gombal dia lupa harga dirinya

* Entah siapa yang salah, si laki atau si perempuan?

Kalau binatang itu suatu kewajaran

Apakah sampai seburuk itu perilaku manusia?

Allah berfirman

وَلَقَدْ ذَرَأْنا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِها وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِها وَلَهُمْ آذانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِها أُولئِكَ كَالْأَنْعامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولئِكَ هُمُ الْغافِلُونَ (١٧٩)

“Dan telah kami ciptakan sebagai penghuni neraka jahanam dari bangsa Jin dan manusia, mereka memiliki hati namun tidak berpikir dengannya, memiliki mata namun tidak melihat dengannya, memiliki telinga namun tidak mendengar dengannya, mereka ibarat binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat, mereka adalah orang-orang yang lalai”

* Kalau tidak ingin seperti binatang, cobalah berpikir dengan hatimu, dengarkan dengan telingamu, pandanglah dengan matamu, Allah tidak menciptakanmu sia-sia, Belajarlah agamamu kalau masih ingin disebut insan

* Untukmu yang menikah dengan tuntunan syariah, aku ucapkan

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

Oleh Ust. Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Saturday, January 30, 2016

Catatan Cabul Malam Minggu

image : pegipegi.com

MALAM minggu, malaikat sibuk mencatat kecabulan umat manusia yang menggila cinta, umbar birahi sedemikian rupa dengan pacar hingga selingkuhannya. Sebab, perilaku ‘kumpul kebo’ sudah menjadi budaya. Saatnya setan berpesta pora merayakan kedunguan pasangan yang memberhalakan nafsu dalam dadanya.

Bocah kecil saling main sentil, ngaku sama emak mau belajar bareng malah kencan dengan lawan jenis yang ngerasa seunyu ‘cindil’, ialah anak tikus berwarna merah muda yang kelak jadi sehitam upil. Si bocah kecil sudah terinveksi virus pergaulan bebas yang menjamur serupa wabah penyakit kutil. Tidak sadar kalau sudah pernah diobok-obok berarti dirinya sudah tidak orisinil.

Bagi yang kuliahan kelakuannya makin kebablasan, bukan sekadar diobok-obok bahkan pasrah main kuda-kudaan hingga tahunan. Malam minggu dijadikan sarana melepaskan kerinduan hingga rela diperangkap kemaksiatan. Kalau sudah begini betapa sakitnya orang tua yang menaruh harapan, agar anaknya bernilai tinggi dalam keilmuan, malah mengobral tubuhnya atas nama pacaran. Sungguh sebegitu keji menghianati kepercayaan orang tua yang telah dengan yakin diamanahkan.

Banyak juga yang sudah menikah, cari selingkuhan di luar rumah. Ngakunya kerja lembur tak tahunya selingkuh dengan gairah. Padahal anak dan pasangan nikah sudah menanti dengan rasa gelisah. Jika begini keadaannya sungguh teramat bubrah. Rumah tangga sudah dicemari nafsu kebinatangan yang parah. Harusnya malam minggu itu saat yang tepat kumpul di rumah. Pergunakan waktu untuk membuat bahagia terus merekah. Sebab perhatian untuk keluarga itu ibadah.

Betapa dunia makin kacau. Nafsu syahwat atas nama zina menceracau. Anehnya yang tidak punya pacar malah menggalau. Padahal jiwa-raganya terjaga serupa daun yang menghijau. Belum terpanggang gelora nafsu yang berkilau. Hingga membuat otak waras menjadi silau. Dibutakan budaya pergaulan bebas yang kian sukar dipantau. Nasihat baik hanya dianggap celoteh di masa lampau. []

sumber : islampos

Arief Siddiq Razaan, 03 Oktober 2015

Sunday, January 24, 2016

Pacaran Lama, Nikahnya Dengan Orang Lain!




Jangankan pacaran, setelah dilamar pun, seseorang bisa gagal menikah karena satu dan lain sebab. Makanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang umatnya mengumumkan lamaran, dan hanya menganjurkan untuk memberitakan pernikahan. Apalagi mereka yang mengumumkan pacaran di media sosial, betapa menyelisihinya dengan perintah Nabi.

Jangankan sekadar lamaran, bahkan yang menikah pun tiada jaminan akan langgeng sampai akhir hayat. Tidak cukupkah kasus-kasus perceraian menjadi pelajaran? Bahwa mengumumkan pernikahan bukan untuk berbangga diri, hanya pemberitahuan agar tidak ada buruk sangka orang yang belum tahu, dan syiar agar banyak orang termotivasi.

Jika mau jujur, dari sekian banyak kasus pacaran, berapa persen yang benar-benar sampai pada pernikahan? Jika pun ada, maka yang gagal jauh lebih banyak dan tidak terhitung. Bahkan, ada yang pacaran coba-coba dan beralih dari satu dosa menuju dosa berikutnya. Kasihan.

Tersebutlah seorang laki-laki gagah. Tampan. Anak orang kaya. Berkendaraan mewah. Dan rajin dalam berbagai proyek sosial. Saat anak-anak seusianya di kampung belum memiliki motor, dia sudah diberi tunggangan keluaran terbaru kala itu.

Karena hal itu pula, dia berhasil menarik hati banyak gadis di tempat tinggalnya. Mulai anak tukang becak yang cantik dan suka lagu dangdut, anak tukang kayu yang menawan dan digandrungi lantaran bunga desa, hingga anak pedagang paling rame di kampungnya.

Itu yang disebut, tiga gadis. Sedangkan yang lainnya tiada terhitung.

Waktu berjalan. Lama tak jumpa. Hingga sampailah kabar kepada khalayak, pemuda ini akan menikah. Rupanya, tidak satu pun dari pacarnya yang dinikahi. Entah bosan karena sudah merasakan atau alasan lain, laki-laki ini menikah dengan perempuan lain dari kecamatan sebelah yang tingkat cantik dan tajirnya kurang dari pacar-pacarnya dahulu.

Uniknya, ketiga pacarnya pun menikah dengan laki-laki lain yang derajat duniawinya tak lebih mulia dari si laki-laki tukang pacaran ini.

Betapa sedihnya? Menikah yang ada debar haru nan menenangkan tiada terasa lagi sebab sudah pernah merasakan sebelumnya. Apalagi, si laki-laki atau perempuan yang berpacaran melakukan ini dengan kesadaran. Ia menyentuh dan memberi izin untuk disentuh. Bahkan lebih dari itu. Na’udzubillah.

Jika pun tidak terjadi sentuhan, percayalah bahwa rasa hati akan berbeda dan memungkinkan timbulnya kebosanan. Bukankah jika berpacaran selama empat tahun, dan menikah baru satu bulan, maka hitungan interaksinya adalah empat tahun satu bulan? Duh!

Like&share

Saturday, January 23, 2016

Menunggu Jodoh dalam Kesendirian



Masalah jodoh, memang rahasia ilahi. Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, di saat manusia masih berada dalam perut ibunya, “Kemudian diperintahkan malaikat untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya…”



Jodoh, termasuk rezeki seseorang. Jadi memang sudah ditentukan oleh Allah semenjak manusia belum diciptakan, dan sudah ditulis di Lauh Mahfuzh. Dalam hal ini, kita tidak diperintahkan untuk memikirkan tentang takdir tersebut, tapi hanya diperintahkan untuk berusaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah, masing-masing akan dimudahkan melakukan apa telah dituliskan baginya.” (Riwayat Muslim).


Sebenarnya, berusaha atau tidak berusaha, jodoh sudah ditetapkan. Tapi masalahnya bukan itu. Bahwa kita tetaplah dianggap berbuat keliru, bila kita tidak berusaha. Yang dituntut oleh Allah dari kita adalah upaya, ikhtiar dan niat baik. Jodoh tetap Allah yang menentukan. Jadi soal jodoh, rezeki dan takdir kita tidak berhak mengurusnya, tapi kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan upaya yang benar dan niat yang bersih itulah, kita akan diberi pahala. Hasilnya, Allah yang menentukan.

Wallahu a'lam Bishawab. 😃

Berdakwah/ Mari Berdakwah

Pegiat Pacaran di Malam Minggu, Bacalah Surat Ini



KUTULIS surat ini kepadamu, duhai pegiat pacaran di malam Minggu. Mohon tahan mual dalam perutmu apabila perlu, sediakan sekotak tisu. Aku takut isi suratku akan membuatmu muntah karena tersedak kata-kata pedas yang menghunjam dalam jantungmu. Tetapi satu hal yang mesti kalian tahu, lebih baik mencret-mencret karena mulas akibat membaca kata-kataku, daripada sebelum nikah hamil dahulu bersebab pergaulan bebasmu.

Kuawali surat ini dengan pertanyaan yang bakal menyiksamu, “Masih waraskah otak kalian di malam Minggu?” Kuharap kalian berani menjawab waras dengan semangat laksana serdadu. Selanjutnya kutanya dengan setulus kalbu, “Jika masih waras mengapa mau dijadikan pemuas birahi pacarmu hingga menjadi golongan pemuda-pemudi dungu?” Bukankah hanya orang-orang dungu yang mau dicucuk hidungnya serupa lembu, disosor kiri-kanan anggota tubuhnya padahal belum resmi menikah di depan penghulu.


Jujur saja kalau punya otak baiknya digunakan untuk mencerdaskan akalmu. Enak sekali pacarmu yang hanya bermodal bensin eceran serta uang sekian puluh ribu sudah bisa mengobok-obok kesucianmu. Apa tidak tragis sekali nasibmu, usia masih remaja tetapi kelakuan sudah melebihi pekerja seks komersial yang menghebohkan itu. Kalau sudah tahu bahwa pacaran itu menodai kesucianmu, lalu mengapa mau saja dijadikan komoditas seksual di setiap malam Minggu?

Sudah pasti tahu kalau budaya zina akan menjerumuskanmu pada neraka jahanam yang siksanya membuat ngilu. Hal ini bersebab pergaulan bebas dilakukan dengan sepenuh kesadaranmu, bahkan begitu bangga bisa kencan bareng pacar setiap malam Minggu.

Sebagai teman baik, diriku merasa berdosa apabila tidak mengingatkanmu. Baiknya berlomba-lombalah putuskan segera pacarmu sebelum sesal akibat hilang keperjakaan/ keperawanan menjadi hal yang menakutkan melebihi sekawanan hantu.

Namun, apabila dirimu tak mau mendengar segala nasehat dariku. Baiknya aku yang mengalah dengan cara mendoakanmu, agar lekas sadar dari kegilaan bersebab hawa nafsu. Bila keadaanmu semakin tak terkendali terpaksa berdoa agar dihilangkan segala kewarasanmu. Sebab sesuai sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam panutanku, “Diangkat pena (tidak dicatat dosa dan Insya Allah berpeluang masuk surga) dari tiga orang: orang tidur hingga dia bangun, orang gila hingga dia sadar, anak-anak sampai ia baligh,” dengan mendoakanmu gila besar harapku semoga masih ada surga yang tersedia saat ajal menjemputmu.

Hanya saja akan lebih baik bagimu, buruan batalkan niat untuk bermalam Minggu. Tegaskan pada pacarmu itu, bila benar-benar mencintai semestinya bersegera menikah di depan penghulu. Merengkuh kebahagiaan cinta dengan sepenuh kalbu.

Sesungguhnya niat baikmu akan terkabul bila bersungguh-sungguh mewujud dalam tingkah laku. Andai pacarmu meminta putus berarti dia bukan jodoh yang terbaik bagimu. Lupakan dan ikhlaskan agar segera menemukan tambatan hati yang baru untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah sepanjang waktu.

Arief Siddiq Razaan, 09 Januari 2016

sumber : islampos

Friday, January 22, 2016

Keutamaan Shalat sunah Fajar



" Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia dan seluruh isinya" (HR. Muslim)

Orang-orang yang dihatinya sudah bersemayam rasa rindu kepada akhirat ,selalu berupaya mencari celah-celah waktu untuk mengumpulkan pahala . termasuk pahala yang dijanjikan dari shalat fajar dua rakaat yang menurut Rasulullah lebih berharga ketimbang harga dunia dan segala isinya . Namun sebahagian orang , jangankan shalat sunah fajar ,shalat fardhu subuh pun ditinggalkan karena lebih senang menikmati secuil kesenangan dunia ..

Memang banyak diantara kita memilih rugi. Yaitu , lebih memilih kesenangan yang sedikit , ketimbang yang banyak  .seperti ada yang memilih menjaga kenikmatan tidur ,daripada beranjak bangun bangun beberapa menit untuk shalat sunah fajar . Juga ada yang tidak mau beranjak dari tempat menonton pertandingan sepakbola . Padahal shalat sunah fajar tidak menghabiskan setengah dari waktu permainan sepakbola . beberapa menit  saja kesenangan menonton sepakbola perlu dikorbankan , demi meraih hasil yang luar biasa .

mengabaikan tawaran shalat sunah fajar akan menimbulkan banyak kegagalan yang sepatutnya disesali. Pertama , gagal memungut pahala yang sangat banyak . Kedua , gagal menjadikan dirisebagai orang yang pandai memilih yang lebih baik untuk kebaikan diri sendiri . Ketiga , gagal mengajak diri untuk menikmati kebiasaan Nabi Muhammad SAW . sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits , Rasululullah SAW bersama sahabat-sahabatnya senantiasa menyempatkan diri untuk shalat sunah fajar

💐🌹 PEMBERIAN MAAF



Dijelaskan oleh Para Ulama bahwa Pemberian Maaf yang akan Mendapatkan Pahala dari Allah adalah Pemberian Maaf yang Menimbulkan Maslahat (Kebaikan).

Salah satu Maslahat yang Dicapai adalah Jika Sang Pembuat Kesalahan menjadi insyaf dan tidak Mengulangi lagi Perbuatannya.

Tapi, kalau Seandainya Pemberian Maaf tersebut Justru akan Menjadikan Seseorang yang Berbuat Salah tersebut Semakin Menjadi-jadi dan tidak Bermanfaat Baginya, maka Tidaklah Dianjurkan Memberikan Maaf Padanya.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala :

...فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ ...(الشورى : 40)

🍃 Barangsiapa yang Memaafkan dan Menimbulkan Kebaikan (Maslahat), maka Pahalanya (akan diberikan) Allah. (Q.S AsySyuura:40)

 🔖 Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah Menjelaskan : “… Allah Mempersyaratkan di dalamnya Pemberian Maaf dan Al-ishlah (Sesuatu yang Menimbulkan Kebaikan). Hal ini Menunjukkan bahwa jika Pembuat Kesalahan tidak Pantas untuk Dimaafkan dan Maslahat Syar’iyyah Mengharuskan ia Mendapatkan Hukuman ,maka dalam Hal ini (Pemberian Maaf) tidak Diperintahkan”(Taisiir Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan, dalam Penafsiran Ayat ke-40 dari surat AsySyuura).

~~~~~~~~~~~~~~~~

Silahkan like & share jika dirasa bermanfaat, semoga kita semua menjadi umat yg menebar manfaat untuk sesama 😊

📙 Dikutip dari Buku " FIQH BERSUCI DAN SHOLAT SESUAI TUNTUNAN NABI "
🗣 Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah

sumber :hadits & Motivation

Ulama Wafat Ilmu Menghilang, Tanda Akhir Zaman



DUNIA kini semakin tua. Keadaan yang tak lagi stabil dengan banyaknya bencana juga cuaca yang sudah tak lagi bersahabat, membuat kita merasa resah serta gelisah. Tapi, tak dapat dipungkiri bahwa keburukan dari dunia ini akibat dari ulah diri kita sendiri. Di mana kita tak bisa menjaga bumi yang kita pijak dengan baik.

Kini, banyak orang-orang yang tak lagi mementingkan keluh kesah derita orang lain. Ilmu yang dimiliki dijadikan sebagai alat untuk merusak bumi ini. Padalah, ilmu yang baik adalah ilmu yang bermanfaat bagi sesama, baik itu dengan sesama manusia atau makhluk lain serta bumi ini.

Tapi, kita patut bersyukur, tak semua orang memanfaatkan ilmu yang dimiliki dengan tidak baik. Masih ada beberapa orang yang mau memberikan ilmunya kepada sesama untuk memberikan arahan kepada jalan kebenaran. Namun, ini tidaklah bertahan lama. Mengapa demikian?

Ketika akhir zaman ini akan terjadi, Allah SWT akan melenyapkan ilmu dari muka bumi ini. Sehingga, banyak orang yang tersesat, tak tahu arah menuju kebenaran. Ilmu itu menghilang melalui kematian ulama. Ya, ulama yang kini kita jadikan sebagai guru, cepat atau pun lambat akan mengalami masa pengakhiran hidupnya.

Disebutkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah tidak mencabut ilmu dari (hati) menusia dengan mengangkatnya ke langit, tapi Ia mencabut ilmu melalui kematian ulama. Hingga ketika tidak lagi ada seorang alim pun, orang-orang mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Mereka kemudian ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Mereka pun tersesat dan menyesatkan,” (HR. Bukhari (I/100), Muslim (IV/kitab; ilmu hadis nomor 13), At Tirmidzi (V/2652), Ibnu Majah (I/52), Ahmad (II/hal: 162). []

Thursday, January 21, 2016

Kata Nasihat Seputar Pacaran Dalam Islam



Cinta merupakan naluri alamiah yang Allah tetapkan bagi manusia. Bisakah manusia hidup tanpa cinta? pastinya kita tahu ketika semua itu dihadapkan ke ranah agama. Marilah kita bertanya, apakah ada manusia yang hidup tanpa mencintai dan dicintai oleh siapa pun? mungkinkah? tentu bisa dikatakan semua itu tidak mungkin. Tak seorang pun sanggup hidup tanpa cinta.

Cinta merupakan fitrah dan naluri. Seandainya Allah tidak menanamkan cinta pada diri manusia, pastilah mereka tak punya harapan untuk bertahan hidup dan berketurunan. Naluri itulah yang menjadi sebab dunia ini tetap ada. Jadi, kita tidak mungkin menghancurkan naluri tersebut. Tidak mungkin kita menghapuskannya dari kehidupan kita dan mengabaikannya begitu saja.

Naluri cinta telah ada sejak awal manusia hidup, sejak Nabi Adam as. berada di surga. Ia merasa kesepian, ada hal yang dirasa kurang dalam dirinya. Adam as. merasa butuh kehadiran Hawa. Bukan hal omong kosong, melainkan kisah dalam hadis Rasulullah saw. saat Nabi Adam as. sedang tidur, Allah swt. menciptakan dari tulang rusuknya Hawa. Kemudian, ia terbangun dan melihat Hawa telah berada di sampingnya. Ia bertanya, "Siapa kamu?" "Seorang perempuan," jawabnya. Adam as. kembali bertanya, Siapa namamu?"
"Hawa"
"Mengapa kamu diciptakan?"
"Agar engkau merasa tentram bersamaku."

Dapat disimpulkan dengan kata lain, Hawa merupakan simbol ketenangan. "Agar engkau merasa tentram bersamaku."

Islam dan Pacaran

Sekarang mari kita bertolak kepada cinta yang diawali dengan proses pacaran. Tentu saja, ini merupakan cara yang sangat mengherankan. Seorang pemuda yang merasa bersalah malah berusaha memperbaiki kesalahannya dengan menambah kesalahan yang lain. Karena kemampuan dan kondisi sosialnya tidak mendukungnya untuk menikah saat masih kuliah, ia pun memberanikan diri untuk melakukan perkawinan diam-diam / bahkan hubungan yang tidak sah sehingga menimbulkan perbuatan zina. (Na'uzubillah min zalik)

Dalam Islam ada dalil yang menunjukkan bahwa pacaran haram. Telah ditunjukkan dalilnya dalam al-Qur'an surah an-Nisa' ayat 25 Allah berfirman: "...dan bukan pula wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraan."

Maksudnya, seorang wanita tidak boleh memiliki hubungan pacaran dengan laki-laki. Sebab, tabiat dan jiwa wanita cepat hancur ketika hubungannya gagal. Ia merasa dirinya hina, hancur, dan jauh dari keluarga.

Kemudian lantas bagaimana? apakah antara pria dan wanita tidak bermanfaat? artinya antara mereka tidak boleh saling berkomunikasi, atau apakah ketika seorang pria bertemu dengan wanita / sebaliknya langsung berlindung kepada Allah?!, berlari menghindar.

Dalam Islam, hubungan paling utama adalah hubungan persaudaraan. Jadi, ada pergaulan yanag diperbolehkan antara laki-laki dan perempuan. Namun, ada batasan-batasan tertentu agar tidak merusak diri dan tidak mendatangkan murka Allah swt. Misalnya, hubungan hanya sebatas hubungan pertemanan, tidak diperbolehkan ada kata-kata atau perbuatan yang dapat memancing terjadinya gejolak hati. Tips-nya cukup kita berkata selama ada kepentingan tertentu (yang dibenarkan Islam).

Berpacaranlah setelah menikah !! itulah yang menjadi pokok pada nasihat tulisan ini. Semoga bermanfaat.


Saudaraku, Pilihlah Teman yang Baik



SAUDARAKU,

Dalam kehidupan ini kita membutuhkan orang untuk menemani kita di dunia. Bukan hanya keluarga, tapi orang lain yang tidak terikat dengan jalinan darah pun perlu kita miliki. Itulah yang kita sebut sebagai teman. Orang yang mampu menjadi sandaran kita dikala senang maupun susah. Ialah orang yang bisa menjadi guru kehidupan bagi kita.

Saudaraku,

Sebagai manusia yang terikat oleh aturan Allah SWT dan manusia, kita harus mampu mengikuti aturan yang ada. Begitu pula dalam memilih teman. Apa hubungannya? Sebab, teman itu memiliki dampak yang sangat kuat bagi kita. Maksudnya?

Jika kita memiliki teman yang baik, maka diri kita pun secara tidak sadar akan melakukan hal yang baik pula. Sedangkan, jika kita memiliki teman yang buruk, tentu secara tidak sadar kita pun akan berperilaku demikian. Itulah yang kini banyak kita temukan, bahwa banyak orang-orang yang melanggar hukum akibat salah memilih teman.

Saudaraku,

Abu Hatim RA telah memberikan gambaran kepada kita seperti apa teman bagi kehidupan kita. Ia berkata, “Sebagaimana teman yang baik itu selalu melahirkan kebaikan, begitu juga teman yang buruk selalu melahirkan keburukan.”

Maka dari itu, sebelum keburukan menimpa diri kita cobalah untuk lebih teliti memilih teman. Pilihlah teman yang bisa mengarahkan kita pada jalan kebaikan. Teman yang mampu membimbing kita untuk senantiasa mengikuti aturan-aturan yang ada. Sehingga, kita bisa menggapai ridha-Nya.

sumber